Mungkin kita memang bukan Elang. Kita Emprit! Dan mungkin tidak ada yang salah dengan itu.
Elang Jawa terbang tinggi, menguasai langit. Tampak gagah, tak tersentuh, menjadi lambang kekuatan, kehormatan, dan kebanggaan. Mungkin karena itulah, ia dipilih sebagai simbol klub kebanggaan warga Sleman. Klub yang menjadi manifestasi jati diri bagi para pendemennya. Diteriakkan, dipuja, dielu-elukan seolah-olah keperkasaan elang itu adalah pantulan dari mereka sendiri: gagah, berani, digdaya.
Simbol itu nyatanya adalah burung yang hidupnya rentan, menyendiri, enggan beranak-pinak, dan habitatnya menyempit. Eksklusif, melangit, sulit dijangkau, terasing dari kenyataan dan nyaris punah atau bahkan sudah?. Ironis, simbol itu sengaja digunakan sebagai misi penyelamatan, agar eksistensinya tetap ada, agar Ia tetap bisa menjadi bagian dari ekosistem yang ada. Tidak asing kah dengan sifat elang ini?, sifat klub kabupaten kebanggaan, setidaknya dalam tiga musim terakhir ini. Melayang-layang tanpa arah di angkasa, kehilangan sarang, sendirian, dan tidak tahu lagi apa yang diburu. Ia eksklusif, tak terjamah, merasa gagah tapi nyatanya terancam punah.
Sementara itu, kita para anak cucu Merapi, yang tumbuh berdampingan dengan ketidakpastian. Ditempa, diajarkan kehidupan oleh Eyang Merapi, menjadi berani dari letusan, membumi karena diurapi keberkahan tanah, air, subur, sumber hidup tak ada habisnya. Kita, masyarakat Sleman menjalani kehidupanya di ruang-ruang hidup yang terus berubah bentuk, ancaman bencana yang ada setiap waktu, sawah-sawah yang menyempit, pemukiman yang semakin padat, pekerjaan yang makin tak pasti. Menghadapi tekanan ekonomi, urbanisasi, dan perubahan sosial secara terus-menerus. Bertransformasi dari petani menjadi pekerja informal, dari warga desa ke penghuni perumahan pinggiran kota. Selalu bertahan dengan saling menguatkan. Memperkuat jiwa kolektif, berjejaring, gotong-royong, mengusahakan hal-hal untuk kebaikan hidup bersama.
Apakah benar, Elang Jawa itu mencerminkan kita, masyarakat Sleman?, bukankah kita, Sleman, lebih seperti Emprit?, burung kecil yang hidup bersama dalam koloni, terbang rendah membumi tidak melangit, bertahan, berisik, beradaptasi dalam berbagai kondisi kehidupan. Emprit yang sering dianggap “hama” oleh para petani, kadang kehadirannya tidak diharapkan, karena merusak tatanan, terusir, namun mereka tetap bertahan, bahkan saat sawah tak lagi ditanam padi, menjadi beton-beton menjulang tinggi, mereka tetap ada, mencari ruang-ruang kehidupanya, diatap-atap di mana pun mereka bisa menetap. Mereka berkoloni, berbagi ruang, dan tidak tergantung, mereka bertahan karena sifat kolektifnya, bukan karena kekuatan individunya.
Kita ini koloni Emprit yang sedang bingung, yang kehilangan representasi jati dirinya, karena salah kita sendiri menjuluki klub itu sebagai Elang, mensifatinya dengan ekslusif, penyendiri. Berisik, cuit tak didengar, apa daya elang punya bahasa berbeda, ia tidak peduli enggan mendengar berisik Emprit mencicit. Mungkin saatnya untuk menyadari dan menerima, kita ini memang bukan Elang, kita ini Emprit. Dan mungkin tidak ada yang salah dengan itu. Ini bukan soal merendahkan diri, ini soal menyadari nilai sejati dari karakter kolektif yang kita miliki. Mungkin kita telah salah memilih simbol. Jika kita memang mau Klub ini memiliki jati diri yang sama dengan kita yang menghidupinya, simbol itu haruslah tumbuh dan hidup dari jati diri masyarakat itu sendiri.
Lalu apakah klub PSS Sleman ini sedang menjelaskan identitasnya sendiri kepada kita? Yang tidak lagi sesuai dengan jati diri kita, atau justru kita, Sleman, yang seharusnya menjelaskan siapa mereka?.
Jika klub kebanggaan ini benar-benar menjadi representasi kita, Sleman, maka ia harus mencerminkan spirit koloni Emprit: kolektifitas, gotong royong, keterikatan satu sama lain, dan kemampuan bertahan dalam segala situasi. Daripada terus kehilangan jati diri dengan selalu merasa sebagai Elang, terlihat gagah nyatanya terancam punah. Hari ini, terimalah bahwa Klub ini adalah Emprit bukan untuk melemah dan menyerah. Sebaliknya, ini bentuk penerimaan terhadap jati diri, memaknai kembali kekuatan kita yang sebenarnya, kekuatan yang terletak pada koloni, gotong-royong, keterikatan satu sama lain, dan pada rasa memiliki bersama. Kita Sleman, koloni Emprit yang tidak akan punah!
Ditulis di Milan, selepas nomor punggung 7 melepas tendangan, PSS Sleman menang di kandang.